#SputnikBride: Projek Pengabadian Cinta Pertama

Disclaimer: Postingan kali ini sepenuhnya dipengaruhi oleh novel Haruki Murakami, yang berjudul Sputnik Sweetheart.

sputnik-bride

Sputnik Sweetheart adalah novel versi bundelan epub pertama yang saya khatamkan, dengan menahan punggung agar tetap lurus ataupun menahan mata agar tidak menyipit. Novel ini juga adalah buku pertama yang saya baca dari koleksi Haruki Murakami, meski buku yang kerap disandingkan dengan namanya bukan ini, melainkan IQ84 (sepengetahuan saya). Setelah membacanya, wah, jangan ditanya lagi, saya mendadak melankolis. Kisah-kisah percintaan masa lalu menjadikan keadaan ini kesempatan emas untuk mencuri-curi napas, membikin saya sesak karena seringnya bernostalgia. Saya kehabisan napas, karena seluruh kenangan yang menyandera otak saya benar-benar tidak tahu diri, semua pahit, nihil rasa manis. Meski satu noktah saja.

Cinta tidak terbalas tentu tidak punya kuasa untuk menaruh rasa selain rasa mengkudu-like di dalam setiap hati yang berharap. Si Sumire, tokoh utama di buku ini, mengalami cinta pertama yang berakhir tidak baik-baik saja. Bukan Sumire seorang, tetapi teman lelakinya pun mengalami kesengsaraan serupa. Perbedaanya terletak pada jenis cinta pertama yang kedua orang itu alami, teman Sumire normal sedang Sumire tidak. Lalu, novel ini pun menjadi novel pertama yang saya coba nikmati meski hati enggan menyelam lebih dalam. Meski begitu, saya yakinkan diri saya untuk tetap melaju sampai page terakhir, bertingkah layaknya pembaca ulung yang melahap jenis bacaan apa saja. Dan pada akhirnya, saya memakan bundelan epub itu bulat-bulat.

Tidak, saya seringnya tidak sampai hati mencaci buku-buku yang pernah saya santap. Tidak ada energi untuk berlaku demikian. Apalagi buku yang jadi penampung kubangan imajinasi Bung Haruki, tidak mungkin! Karena memang, saat melihat kulit buku yang membikin nafsu saya menghentak berkali-kali, saya rasakan buku ini harus jadi buku tester dari koleksi Bung Haruki. Benarlah, kali ini, karena insting lebih saya utamakan (walau nafsu juga menjadi pendukung tak kalah penting) saya mendapatkan buku ini sebagai segelas air putih yang disuling dari pegunungan, dimana Bung Haruki jadi juru kuncinya. Lalu diteguk habis, dan terlentang dengan perut buncit.

Tidak hanya pilu yang dialami Sumire saja yang menjadi bahan utama dalam racikan ini, tetapi berbagai rasa seperti rasa kebingungan, kekecewaan, ketidakpercayadirian, bahkan kehampaan menjadikan semangkuk buku ini punya rasa sedih yang pekat. Cobalah, maka Anda akan diserang kenangan akan cinta pertama yang tidak sempat berlabuh.

Baiklah, ketika Anda tertular kesedihan yang sama seperti Sumire, maka Anda harus berusaha untuk mengobatinya. Saya berkata demikian karena saya telah melakukannya. Tidak bisa saya bertingkah seperti Sumire yang tolol, menghilangkan diri dari kehidupan yang sudah sangat lama dijalani, meski tidak sempurna, tidak apa-apa, jangan pedulikan. Cara paling ampuh untuk mengobati penyakit menular tersebut adalah (padahal, ide ini muncul sepenuhnya karena roman ini lagi) dengan tetap bermimpi. Ya, bermimpi sajalah. Mimpi saya adalah, saya akan jabarkan seperti ini;

Saya bermimpi, saya akan menikah dengan cinta pertama saya. Eh, tidak. Saya tidak akan menikah dengan cinta pertama saya. Tetapi, saya kembali mengubah pikiran saya. Bagaimanapun juga, di mimpi saya ini, saya harus menikah dengan hatsukoi saya. Kemudian, saya akan melabeli diri saya sebagai Sputnik Bride. Selesai.

Begitulah, cara terbaik untuk mengabadikan cinta pertama yang (kebanyakan) tidak diberikan takdir semulus plastik mika. Begitulah cara saya menyikapinya. Sumire, teman Sumire, dan Bung Haruki memang keren. Mereka membikin saya tidak hanya saja menggerutu, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mencontek kisah sedih mereka, agar saya juga tidak ikut-ikutan sengsara seperti mereka. Tetapi berdekapan mesra dengan ia, cinta pertama saya. Di mimpi yang tidak kunjung saya temukan muaranya.

Advertisements

Why You Should Listen to BTOB’s The Winter’s Tale

This year is about to end. New year’s Eve draws pretty much near, however snow still freezes the air. But, don’t you ever be worry, togetherness with the loved ones never fails to drive out troublesome nights in December. Sadly, there are still found bunch of pitiable people who are weeping for the sake of unrequited love they try to struggle on with. No way! That is really a nonsense stuff. Eventhough you are consciously sure that you are less supported with such a luck some people have in their lives, mourning over miserable things is not such a way out. It totally violates Socrates’ idea of wisdom. It was said that a wise are aware of his self acceptance in which he is conscious with the gap between what he wants to be and what he really is. In short, please behold yourself along with and endless of happiness the way Democritus did. I had a thought that maybe, Democritus had imagined that in 21th Century, Heraclitus clan would have vanished because of the flourishing source of cheerful despair availability. What is meant by festivity comes in my mind as a list of breathtaking song titles. In this very case, the song that’s really in accordance with chill and despair moment is none but The Winter’s Tale by BTOB. The song is absofrigginglutely worth listening, and the following confessions will surely make you convinced.

btobs-the-winters-tale

Continue reading

Going to Cinema and Lonesome

I went to the cinema several days ago. Although I wasn’t literally watching the film by myself, there were no my acquaintances around. My friend asked me to go to the cinema and promised to give a free ticket. I agreed, but in one condition that I wouldn’t watch the film she was going to watch, I had another preference.  I decided to watch Headshot in which I was so grateful about the decision since I’m not fond of watching romance. So, my friend and I weren’t sitting side by side. Luckily, my friend were with a friend of hers who was about to watch the same film. I felt less guilty. There I was, lonesome embraced me tightly.

wacthcing-movie-alone

I rarely go the cinema. Eventhough I want to, I need to go by myself. I just don’t like it, to go around with someone I know, especially going to a library. The feeling of uneasy completes my anxiety, and at the end I lose the joy. I was said to be a lonesome, but I’m fine with it (exactly, I’m trying to be fine). Isn’t it cool to be just having no one disturbing our precious moment by endlessly talking about their sorrows? Lonely is not a condition cursed by a whitch who hates you, but a blessing one given to please yourself to stop faking out a personality. It might be true that sometimes people are insane after suffering through hard times of being lonely. I felt it, and I knew it. For instance, there are times for me needing a friend who I can share everything with. Trutfully, I don’t own one. There is no one who likes to read historical fiction just like I do or the one who reads classics. Even if that person exists, she or he maybe in another part of the world, or she or he is too ignorant to reply my warm greeting, or  she or he is too famous to be acquainted with. I’m frequently depressed about such a thing. I try hard to be alright with my lonesome and try to convince myself that mourning will not help me to finish books I started to read. It never will. Also, I envy those who belong to particular communities, escpecially a book club.

While guessing what’s wrong with myself to be in this state, I did and keep doing everything to be busy with. I keep reading, watching, typing, language-studying and listening. I pursue everything worth knowing to develop myself, to be against a pathetic lonesome. The time ticks to a long period of guessing, but I haven’t found the answer yet. Is it solely about a fate?. It creates another understanding in my mind, that I hate lonesome. But, sometimes I’m just proud of being not to be with somebody else. I end up questioning my dignity and maybe soon leading to self-hatred.

Benci Indonesia

Siang itu mentari pongah sekali. Panas yang ia pancarkan bagai mencambuk kulit penduduk bumi yang kebetulan sedang lalu lalang tanpa peneduh. Sudah barang tentu, panas yang tumpah ruah itu jadi bahan rutukan mereka, termasuk aku. Kemeja yang aku pakai sebagian sudah dibasuh dengan air keringat dan di keningku mengalir buliran keringat yang jatuh dari pori-pori kepala lalu menggenang di kedua alisku yang tebal. Sepanjang perjalanan yang aku tempuh dengan berjalan kaki dari rumah teman karibkudi daerah Jalan Mayor Oking menuju stasiun Bogor, pikiranku terus memikirikan permasalahan di Indonesia yang carut-marut. Panas yang sedang aku rasakan ini pastilah disebabkan oleh pemerintah yang tidak becus bekerja untuk melayani rakyatnya. Mungkin sekarang, para aparat negara dengan jas hitam dan dasi warna-warni itu tidak merasakan betapa panasnya jalanan beraspal yang memanggang sol sepatuku ini, tetapi sedang enak-enaknya duduk menyelonjorkan kaki di atas meja sambil merasakan semburan angin AC. Pemikiran seperti ini membuat keningku berkerut yang kemudian menjatuhkan genangan keringat di alis yang sudah penuh ke jalanan. Lihatlah! sengatan sinar matahari rupanya belum cukup membuat siang hari ini menyedihkan, saat aku berbelok ke Jalan Kapten Muslihat, tumpukan kendaraan menutup jalanan dan suara klakson saling bersahut-sahutan. Semua itu tidak lebih dari polusi untuk mata dan telingaku. Aku semakin mempercepat langkah sambil berkali-kali menggumamkan “Aku benci negeri ini”.

Continue reading

Guys who Matter

Girls may say they have listed certain characteristic to choose boys whom they desire to own, but sadly not all of them end up having the ideal one. It happened to boys, too (I suppose). Frankly speaking, it’s a kind of natural thing to do such a behavior because lover sometimes need to determine the best. Probably, the characteristic they list on their inner shopping list implies their own psychological needs or even duplicates of their own characters. It might be true, especially for the latter one. Moreover, that thought is fully supported by Surah An-Nur ayah 26 which says; “Corrupt women are for corrupt men, and corrupt men for corrupt women. Good women are for good men, and good men for good women. They are innocent of the calumnies people utter. There shall be forgiveness for them and a generous provision.” However, this discussion is not attempting to seek in which side we are, the corrupt one or the good one, but it’s briefly going to list two types of men girls desire the most.

Continue reading

Demam Menikah

Oh! Undangan pernikahan yang baru lagi.

794211ac1744fe52d7ee5330ccf36cff-copy

Di generasi alis tebal buatan seperti sekarang ini, kaum hawa keranjingan untuk cepat-cepat menyandang status baru di hidup mereka. Mereka ingin menikah. Semuanya ingin menikah. Teman-teman saya pun sebagian ada yang mengalami gejala demikian. Mereka tidak mau lagi hubungan tanpa ikatan sakral. Mereka kepingin menikah dan menolak segala siasat gombal yang dicanangkan oleh lelaki perayu masa kini, meski sudah di upgrade ke versi terbaru. Fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang dekat dengan Tuhannya, tetapi juga menjadi virus endemik yang menulari para wanita karir. Itu menurut penelurusan saya. Mungkin akan berbeda dengan penemuan yang lain jika ada seseorang bersedia mencari tahu fenomena ini di negara-negara tanpa aturan, liberal maksudnya. Ternyata, keinginan menikah ini bukanlah suatu masalah yang bisa ditemukan dengan mudah solusinya. Cukup sulit, mengingat jumlah wanita yang ingin dipersunting melebihi jumlah lelaki yang ada. Belum lagi dengan munculnya lelaki yang lebih suka makan kelelakiannya sendiri. Meskipun begitu, (menurut saya) lebih mengasyikkan untuk menemukan sebab musabah dari fenomena ini ketimbang mencari solusinya. Berikut adalah kumpulan alasan imajiner yang berenang di kubangan air hasil pencucian otak yang saya lakukan secara berkala. Continue reading

Mr. Chu: Ketika Engkau Jatuh Cinta

Cinta yang menyulam dua hati menjadi satu tidak akan pernah kekurangan bahagia untuk ikatannya. Jutaan kisah haru, tegang, ataupun sukacita telah lahir dari rahimnya yang ukurannya sebesar alam semesta itu. Ada satu peraturan yang berlaku, bahwa cinta akan menembakkan pelurunya kepada siapa saja yang ia inginkan, jika terpilih tanpa menyertakan engkau dalam suatu perundingan, tidak ada pilihan untuk menolak. Engkau harus bersedia. Meski begitu, banyak juga hati-hati yang mengidamkan peluru itu lekas mengeksekusi kesepian yang memberontak dan tentu mengganggu seperti halnya benalu. Intinya, cinta tidak pandang bulu. Engkau dapat buktikan pada syair-syair yang deras keluar dari mulut-mulut mereka, baik insan yang berdarah biru sampai dengan pedagang tahu Continue reading